Satu kali dalam sebuah perbincangan setelah
saya tidak lagi mengajar di al-Ihsan Boarding School Ikadi Riau saya
menyampaikan pada teman yang berniat mengabdi di sana, “Di IBS itu mau tidak
mau guru mesti kreatif, kalau tidak anak-anak akan membandingkan.”
Berapa persen kebenarannya? Saya juga tidak
tahu, tapi selama lebih kurang tujuh bulan di sana, itulah – di antara
tantangan menarik lainnya – yang saya rasakan.
Pernah saya mempersiapkan short story
untuk didemonstrasikan di kelas, tapi begitu cerita dimulai anak-anak sudah ada
yang menyela kalau cerita tersebut sudah pernah diceritakan oleh guru yang
lain. Akhirnya ketika itu juga saya membuat alur yang beda. Seperti kalau
selama ini cerita yang berkembang Malin kundang yang durhaka, maka kali itu
ibunya Malin Kundanglah yang durhaka.
Sama sekali ini bukanlah bab pelajar hormat
tidak hormat kepada gurunya, bukan! Satu sisi ini adalah hasil didikan
kekritisan pada sesuatu yang stagnan – remaja setingkat SMP dan SMA memang suka
sesuatu yang baru – dan pada sisi yang lain ini menjadi trigger kepada
para pendidik di sana untuk membaca dan belajar lebih banyak setiap kali
matahari dan bulan menceraikan malam dan siang.
***
Pesantren mana yang melatih santrinya untuk
berdemonstrasi?
Turun ke jalan dengan kepala diikat, seraya Korlap
orasi diikuti yel-yel yang tiada putus-putus.
Di waktu lain duduk bersama di sebuah ruangan
lalu saling berdebat mensimulasikan persidangan laiknya para wakil rakyat.
Juga sama sekali mereka bukan dilatih untuk
menghujat – di saat kata-kata ‘hujat’ tidak asing lagi bagi masyarakat kita –
tapi mereka sedang belajar menyampaikan ide dan gagasan dengan penuh etika. Dan
tidak penting yang dikritisi itu siapa, seperti halnya seorang sahabat yang berdiri
ketika Umar hendak memulai pidatonya, dan sahabat itu mempertanyakan pakayan
yang sedang dipakai oleh sang Khalifah.
Mereka memang diajari menghormati yang tua,
menghargai sesama besar, dan menyayangi yang lebih kecil. Namun, itu tidaklah
boleh menjadi gembok yang kuncinya dibuang ke laut. Lalu tumbuh menjadi
anak-anak muda yang matanya kabur melihat kemiringan.
***
Bila hari anak-anak muslim ini tumbuh dengan
motivasi, maka akan tiba saatnya nanti agama ini kembali menjadi kiblat
peradaban dunia.
Sebab sekarang kita minus anak-anak muda yang
menyingsingkan lengan bajunya buat orang lain, itu karena mereka dulu selalu
diselimuti oleh pesimisme yang ditanamkan orang-orang tua mereka, yang takut
Tuhan tidak bertanggungjawab dengan hidupnya, lalu mereka tumbuh untuk seukuran
bayang-bayangnya.
Di al-Ihsan Boarding School Ikadi Riau mereka
yang hidup dengan jiwa yang padam, berlahan akan gugur seperti gugurnya bunga
layu dari tangkai.
Saya merasakan itu. Mulai dari pimpinan, guru
dapur, security, guru kelas, guru asrama, dan pegawai lainnya, yang bertahan
adalah mereka yang di dadanya selalu bergemuruh spirit perubahan.
Gemuruh spirit itu juga dialirkan kepada para
santri, sejak bangun hingga tidur kembali. Maka, jangan heran kalau yel-yel
akan terdengar saling bersahutan dari satu ruangan ke ruangan lainnya, dari
satu kegiatan kekegiatan lainnya. “Waktu istirahat kita,” ucap pimpinan
berulangkali mengingatkan pesan ulama besar asal Baghdad Ahmad bin Hambal.
“Adalah ketika kaki kanan kita menginjak pintu surga.”
Shalat malam, Duha dan puasa senin yang
‘diwajibkan’ pada santri adalah modal besar bagi manusia yang menapaki jalan
para nabi dan rasul, sebab ia adalah agenda pemenangan jiwa sebelum menang di
alam nyata.
***
Kini bila Hp saya berdering, sesekali panggilan
dan pesannya adalah dari jiwa-jiwa muda al-Ihsan Boarding School Ikadi Riau.
Hanya sekedar bertanya, “Apa kabar ustad? Kapan ustad ke pondok lagi?”
Lain waktu juga muncul di facebook.
Bila demikian, biasanya saya menjawab,
“Bila impian hari ini tidak lagi kita sebut
sebagai mimpi.”
![]() |
| Januari 2012 |
(Tumbuh dan dewasalah generasi muda secepat
mungkin, karena kini di negeri kita pesta belum usai-usai).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar