Kamis, 26 April 2012

Bila Keinginan Hari ini Tidak Lagi Disebut Mimpi


Satu kali dalam sebuah perbincangan setelah saya tidak lagi mengajar di al-Ihsan Boarding School Ikadi Riau saya menyampaikan pada teman yang berniat mengabdi di sana, “Di IBS itu mau tidak mau guru mesti kreatif, kalau tidak anak-anak akan membandingkan.”
Berapa persen kebenarannya? Saya juga tidak tahu, tapi selama lebih kurang tujuh bulan di sana, itulah – di antara tantangan menarik lainnya – yang saya rasakan.
Pernah saya mempersiapkan short story untuk didemonstrasikan di kelas, tapi begitu cerita dimulai anak-anak sudah ada yang menyela kalau cerita tersebut sudah pernah diceritakan oleh guru yang lain. Akhirnya ketika itu juga saya membuat alur yang beda. Seperti kalau selama ini cerita yang berkembang Malin kundang yang durhaka, maka kali itu ibunya Malin Kundanglah yang durhaka.
Sama sekali ini bukanlah bab pelajar hormat tidak hormat kepada gurunya, bukan! Satu sisi ini adalah hasil didikan kekritisan pada sesuatu yang stagnan – remaja setingkat SMP dan SMA memang suka sesuatu yang baru – dan pada sisi yang lain ini menjadi trigger kepada para pendidik di sana untuk membaca dan belajar lebih banyak setiap kali matahari dan bulan menceraikan malam dan siang.
***
Pesantren mana yang melatih santrinya untuk berdemonstrasi?
Turun ke jalan dengan kepala diikat, seraya Korlap orasi diikuti yel-yel yang tiada putus-putus.
Di waktu lain duduk bersama di sebuah ruangan lalu saling berdebat mensimulasikan persidangan laiknya para wakil rakyat.
Juga sama sekali mereka bukan dilatih untuk menghujat – di saat kata-kata ‘hujat’ tidak asing lagi bagi masyarakat kita – tapi mereka sedang belajar menyampaikan ide dan gagasan dengan penuh etika. Dan tidak penting yang dikritisi itu siapa, seperti halnya seorang sahabat yang berdiri ketika Umar hendak memulai pidatonya, dan sahabat itu mempertanyakan pakayan yang sedang dipakai oleh sang Khalifah.
Mereka memang diajari menghormati yang tua, menghargai sesama besar, dan menyayangi yang lebih kecil. Namun, itu tidaklah boleh menjadi gembok yang kuncinya dibuang ke laut. Lalu tumbuh menjadi anak-anak muda yang matanya kabur melihat kemiringan.
***
Bila hari anak-anak muslim ini tumbuh dengan motivasi, maka akan tiba saatnya nanti agama ini kembali menjadi kiblat peradaban dunia.
Sebab sekarang kita minus anak-anak muda yang menyingsingkan lengan bajunya buat orang lain, itu karena mereka dulu selalu diselimuti oleh pesimisme yang ditanamkan orang-orang tua mereka, yang takut Tuhan tidak bertanggungjawab dengan hidupnya, lalu mereka tumbuh untuk seukuran bayang-bayangnya.
Di al-Ihsan Boarding School Ikadi Riau mereka yang hidup dengan jiwa yang padam, berlahan akan gugur seperti gugurnya bunga layu dari tangkai.
Saya merasakan itu. Mulai dari pimpinan, guru dapur, security, guru kelas, guru asrama, dan pegawai lainnya, yang bertahan adalah mereka yang di dadanya selalu bergemuruh spirit perubahan.
Gemuruh spirit itu juga dialirkan kepada para santri, sejak bangun hingga tidur kembali. Maka, jangan heran kalau yel-yel akan terdengar saling bersahutan dari satu ruangan ke ruangan lainnya, dari satu kegiatan kekegiatan lainnya. “Waktu istirahat kita,” ucap pimpinan berulangkali mengingatkan pesan ulama besar asal Baghdad Ahmad bin Hambal. “Adalah ketika kaki kanan kita menginjak pintu surga.”
Shalat malam, Duha dan puasa senin yang ‘diwajibkan’ pada santri adalah modal besar bagi manusia yang menapaki jalan para nabi dan rasul, sebab ia adalah agenda pemenangan jiwa sebelum menang di alam nyata.
***
Kini bila Hp saya berdering, sesekali panggilan dan pesannya adalah dari jiwa-jiwa muda al-Ihsan Boarding School Ikadi Riau. Hanya sekedar bertanya, “Apa kabar ustad? Kapan ustad ke pondok lagi?”
Lain waktu juga muncul di facebook.
Bila demikian, biasanya saya menjawab,
“Bila impian hari ini tidak lagi kita sebut sebagai mimpi.”

Januari 2012
(Tumbuh dan dewasalah generasi muda secepat mungkin, karena kini di negeri kita pesta belum usai-usai).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar