Jika hendak mengenal orang
berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa
Jika hendak mengenal orang
yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang
sia-sia
Jika hendak mengenal orang
mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia
Jika hendak mengenal orang
yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah
jemu
Jika hendak mengenal orang
yang berakal
Di dalam dunia mengambil
bekal
Jika hendak mengenal orang
yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur
dengan orang ramai
Sebagai bangsa yang besar, Indonesia terbentang
dari Sabang Merauke, Miangas hingga pulau Rote. Pulau yang berjumlah lebih
kurang 17 ribu ini dihuni 138 juta penduduk (sensus 2010), dan 300 suku bangsa.
Integrasi merupakan kata yang harus mampu diejawantahkan oleh segenap putra
putri bumi pertiwi bangsa ini.
Adalah diskursus yang amat panjang
membincangkan kulturisasi gerakan dakwah. Dakwah yang merupakan tugas yang amat
mulia, harus mampu ditampilkan dengan penuh elegan oleh para duat-nya.
Ia tak boleh menjelma menjadi menara gading yang mengagumkan dalam
perbincangan, tetapi sulit dalam penerapan. Maka, mau tidak mau (like or
dislike) mestilah ia menjadi ‘baling-baling di perbukitan’ selama itu bukan
terkait dengan sawabit yang menjaga orisinalitasnya. Belajarlah dari
para nabi yang Allah kirimkan ke kaum-kaum mereka, kita akan melihat bagaimana
nabi-nabi tersebut mendakwahkan agama ini sesuai dengan style para
kaumnya. Kesan-kesan eklusifisme yang disematkan publik pada dakwah, adalah indikasi
kegagalan para dai dalam menjaga eksistensinya.
Gurindam 12 merupakan karya Raja Ali Haji 168
tahun yang silam, tepatnya beliau tulis pada tahun 1263 H/1842 M. Namun, karya
besarnya itu masih tetap relevan sampai saat ini. Pesan-pesan kehidupan yang
terkandung di dalamnya senantiasa bernafas menghidupi lintas generasi.
Pada kesempatan ini, kita mencoba memaknai
pasal ke lima dari gurindam tersebut. Dengan harapan ini merupakan bagian dari
upaya kulturisasi gerakan dakwah di negeri tercinta ini.
Jika hendak mengenal orang
berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa
Membangun komunikasi efektif. Komunikasi secara
umum dapat digolongkan pada dua hal; verbal dan non verbal. Komunikasi verbal
adalah upaya membangun kemampuan berbicara yang baik, dengan segala arkannya
(jelas, teratur, santun). “Dan di antara manusia ada yang pembicaraannya
tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau…(al-Baqarah: 204) Ini adalah
bukti betapa al-Quran memberikan ruang hanya untuk membincangkan para orator
yang mencengangkan audiennya the lion of speaker’s platform
(singa podium). Namun kita tak cukup berhenti pada kepiawaian menguasai
kata-kata, sisi lainnya mestilah kader dakwah berinteraksi dengan mad’unya
sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Dan pastikan setiap ucapan yang
meluncur merupakan tetesan air hujan yang memberikan kesejukan dan kesuburan
bagi bi’ahnya.
Komunikasi non verbal adalah bagian lain yang
juga ‘wajib’ bagi para kader menguasainya. Di era modern ini kita tidak saja
bisa menyampaikan pesan-pesan Tuhan face to face, namun lebih jauh dari
itu mesti punya kemampuan literasi yang baik, sehingga banyak objek dakwah yang
bisa dituntaskan pada waktu yang bersamaan, ‘Sekali mendayung dua tiga pulau
terlampaui’ demikian ujar pendahulu kita.
Jika hendak mengenal orang
yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang
sia-sia
Efektivitas waktu. Itulah sebabnya kenapa di
dalam dakwah ini ada aulawiyyah (prioritas), karena bentangan pekerjaan
yang terhampar amat tidak mungkin tuntas dalam waktu singkat, bahkan boleh jadi
belum selesai ketika masa hidup kita usai. Maka, pekerjaan yang sangat penting
harus ditempatkan di atas yang penting, yang penting mesti diletakkan di atas
yang kurang penting. Dan tidak ada waktu bagi para kader dakwah barang sedikit
pun bergumul pada hal-hal yang tidak penting. Bukankah satu waktu mesti
menghasilkan satu amal! “Waktu kita
sedikit, sedangkan pekerjaan banyak” demikian imam syahid Hasan al-Banna
mewasiatkan. Seorang penyair mendendangkan, “Masa muda kita terbatas/ Kita
tidak akan muda selamanya/ Setiap detik, menit dan jam adalah algojo/ Yang siap
siaga memenggal kita kapan pun/ Bisa jadi ia seret dulu kita menemui ketuaan/
Di sana tidak sedikit orang bersedih/ Menangisi masa muda yang alpa/ Jarum
jamnya telah terseok-seok/ Dan pastinya mustahil diputar ulang/ Walaupun air
mata air mata darah.”
Jika hendak mengenal orang
mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia
Membangun kredibelitas diri. Mengaitkan
kemulian dengan kelakuan sama artinya merumuskan ‘menghormati orang baik,
menjauhi orang yang tidak baik’ dan takaran kebaikan itu adalah agama ini. Buya
Hamka menyampaikan “Gila hormat tidak boleh, tapi menjadi manusia terhormat
adalah kemestian.” Maka, trust itu tidaklah muncul secara tiba-tiba
(karbitan), tidak tuntas dengan bim salabim, abra kadabra. Ia
merupakan seleksi alam yang saban waktu memantaunya. Dan inilah yang mesti dipersiapkan
para kader dakwah secara gradual, seperti halnya Rasulullah saw.
Jika hendak mengenal orang
yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah
jemu
Revitalisasi intelektual. Ketika dulu bung
Karno ditanya kenapa ia rajin membaca, ia menjawab “Saya ingin menjadi
presiden.” Begitu pun dengan bung Hatta yang mengangkut bukunya berpeti-peti
ke mana pun ia berangkat, demikian juga Bill Clinton yang membaca 3 buah buku dalam
sehari. “Pada saatnya nanti” kata seorang ahli hikmah, “Manusia itu
akan didefenisikan sebagai makhluk yang membaca.” Artinya di zaman itu
tak-lah manusia disebut manusia, kecuali kalau ia membaca. “Dan Sulaiman
telah mewarisi Daud.” (An-Naml:16) demikian al-Quran menggambarkan proaktif
nabi Sulaiman belajar dari sang ayahnya Daud as. “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugrahinya
ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa….” (al-Baqarah: 247) mempersiapkan pemimpin masa depan, pada saat yang
sama mempersiapkan intelektualitas kader yang berkualitas.
Jika hendak mengenal orang
yang berakal
Di dalam dunia mengambil
bekal
Optimalisasi
pengabdian. Kehidupan dunia yang tidak lama ini, mestilah kita mampu
mensiasatinya dengan siasat yang terbaik. Setiap kader haruslah mem-petakan
ruang pengabdian dan melejitkan potensinya di ruang tersebut. Pada akhirnya
disitu jugalah ia akan diperhitungkan penduduk bumi dan disebut-sebut penduduk
langit, hingga setiap jejak langkahnya merupakan catatan sejarah yang bakal
dipedomani generasi berikutnya, dan akan ia bangga-banggakan di hadapan Tuhan
nantinya.
Jika hendak mengenal orang
yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur
dengan orang ramai
Memiliki imunitasi
diri. Acap kali kita dengar bahwa para dai bukanlah komunitas malaikat yang
selalu benar, dan sebaliknya juga bukan komunitas setan yang senantiasa salah.
Ini adalah jamaah manusia yang dalam upaya kontinuitas pada kebenaran,
terkadang kita salah. Walau pun begitu kita tidak disarankan mengasingkan diri,
dengan harapan tidak banyak interaksi dengan manusia, dan dengan harapan juga
sedikit kiranya dosa yang tercipta.
Lihatlah misalnya
teguran Allah pada nabi Yunus as, ketika ia pergi meninggalkan umatnya dalam
kesesatan. Maka, para dai bukanlah si-sufi yang melarikan diri ke hutan-hutan,
ke gunung-gunung, seraya menasbihkan dirinya. Tetapi para dai (kader dakwah)
yang kita rindukan adalah mereka yang berbaur namun tidak bercampur,
berinteraksi tetapi tidak terkontaminasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar