Rabu, 25 April 2012

Memaknai Gurindam; Sebuah Upaya Kulturisasi Gerakan Dakwah

Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia-sia

Jika hendak mengenal orang mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia

Jika hendak mengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu

Jika hendak mengenal orang yang berakal
Di dalam dunia mengambil bekal

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Sebagai bangsa yang besar, Indonesia terbentang dari Sabang Merauke, Miangas hingga pulau Rote. Pulau yang berjumlah lebih kurang 17 ribu ini dihuni 138 juta penduduk (sensus 2010), dan 300 suku bangsa. Integrasi merupakan kata yang harus mampu diejawantahkan oleh segenap putra putri bumi pertiwi bangsa ini.
Adalah diskursus yang amat panjang membincangkan kulturisasi gerakan dakwah. Dakwah yang merupakan tugas yang amat mulia, harus mampu ditampilkan dengan penuh elegan oleh para duat-nya. Ia tak boleh menjelma menjadi menara gading yang mengagumkan dalam perbincangan, tetapi sulit dalam penerapan. Maka, mau tidak mau (like or dislike) mestilah ia menjadi ‘baling-baling di perbukitan’ selama itu bukan terkait dengan sawabit yang menjaga orisinalitasnya. Belajarlah dari para nabi yang Allah kirimkan ke kaum-kaum mereka, kita akan melihat bagaimana nabi-nabi tersebut mendakwahkan agama ini sesuai dengan style para kaumnya. Kesan-kesan eklusifisme yang disematkan publik pada dakwah, adalah indikasi kegagalan para dai dalam menjaga eksistensinya.
Gurindam 12 merupakan karya Raja Ali Haji 168 tahun yang silam, tepatnya beliau tulis pada tahun 1263 H/1842 M. Namun, karya besarnya itu masih tetap relevan sampai saat ini. Pesan-pesan kehidupan yang terkandung di dalamnya senantiasa bernafas menghidupi lintas generasi.
Pada kesempatan ini, kita mencoba memaknai pasal ke lima dari gurindam tersebut. Dengan harapan ini merupakan bagian dari upaya kulturisasi gerakan dakwah di negeri tercinta ini.

Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa
Membangun komunikasi efektif. Komunikasi secara umum dapat digolongkan pada dua hal; verbal dan non verbal. Komunikasi verbal adalah upaya membangun kemampuan berbicara yang baik, dengan segala arkannya (jelas, teratur, santun). “Dan di antara manusia ada yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau…(al-Baqarah: 204) Ini adalah bukti betapa al-Quran memberikan ruang hanya untuk membincangkan para orator yang mencengangkan audiennya the lion of speaker’s platform (singa podium). Namun kita tak cukup berhenti pada kepiawaian menguasai kata-kata, sisi lainnya mestilah kader dakwah berinteraksi dengan mad’unya sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Dan pastikan setiap ucapan yang meluncur merupakan tetesan air hujan yang memberikan kesejukan dan kesuburan bagi bi’ahnya.
Komunikasi non verbal adalah bagian lain yang juga ‘wajib’ bagi para kader menguasainya. Di era modern ini kita tidak saja bisa menyampaikan pesan-pesan Tuhan face to face, namun lebih jauh dari itu mesti punya kemampuan literasi yang baik, sehingga banyak objek dakwah yang bisa dituntaskan pada waktu yang bersamaan, ‘Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui’ demikian ujar pendahulu kita.


Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia-sia
Efektivitas waktu. Itulah sebabnya kenapa di dalam dakwah ini ada aulawiyyah (prioritas), karena bentangan pekerjaan yang terhampar amat tidak mungkin tuntas dalam waktu singkat, bahkan boleh jadi belum selesai ketika masa hidup kita usai. Maka, pekerjaan yang sangat penting harus ditempatkan di atas yang penting, yang penting mesti diletakkan di atas yang kurang penting. Dan tidak ada waktu bagi para kader dakwah barang sedikit pun bergumul pada hal-hal yang tidak penting. Bukankah satu waktu mesti menghasilkan satu amal!  “Waktu kita sedikit, sedangkan pekerjaan banyak” demikian imam syahid Hasan al-Banna mewasiatkan. Seorang penyair mendendangkan, “Masa muda kita terbatas/ Kita tidak akan muda selamanya/ Setiap detik, menit dan jam adalah algojo/ Yang siap siaga memenggal kita kapan pun/ Bisa jadi ia seret dulu kita menemui ketuaan/ Di sana tidak sedikit orang bersedih/ Menangisi masa muda yang alpa/ Jarum jamnya telah terseok-seok/ Dan pastinya mustahil diputar ulang/ Walaupun air mata air mata darah.”

Jika hendak mengenal orang mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia
Membangun kredibelitas diri. Mengaitkan kemulian dengan kelakuan sama artinya merumuskan ‘menghormati orang baik, menjauhi orang yang tidak baik’ dan takaran kebaikan itu adalah agama ini. Buya Hamka menyampaikan “Gila hormat tidak boleh, tapi menjadi manusia terhormat adalah kemestian.” Maka, trust itu tidaklah muncul secara tiba-tiba (karbitan), tidak tuntas dengan bim salabim, abra kadabra. Ia merupakan seleksi alam yang saban waktu memantaunya. Dan inilah yang mesti dipersiapkan para kader dakwah secara gradual, seperti halnya Rasulullah saw.

Jika hendak mengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu
Revitalisasi intelektual. Ketika dulu bung Karno ditanya kenapa ia rajin membaca, ia menjawab “Saya ingin menjadi presiden.” Begitu pun dengan bung Hatta yang mengangkut bukunya berpeti-peti ke mana pun ia berangkat, demikian juga Bill Clinton yang membaca 3 buah buku dalam sehari. “Pada saatnya nanti” kata seorang ahli hikmah, “Manusia itu akan didefenisikan sebagai makhluk yang membaca.” Artinya di zaman itu tak-lah manusia disebut manusia, kecuali kalau ia membaca. “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud.” (An-Naml:16) demikian al-Quran menggambarkan proaktif nabi Sulaiman belajar dari sang ayahnya Daud as. “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugrahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa….” (al-Baqarah: 247) mempersiapkan pemimpin masa depan, pada saat yang sama mempersiapkan intelektualitas kader yang berkualitas.

Jika hendak mengenal orang yang berakal
Di dalam dunia mengambil bekal
Optimalisasi pengabdian. Kehidupan dunia yang tidak lama ini, mestilah kita mampu mensiasatinya dengan siasat yang terbaik. Setiap kader haruslah mem-petakan ruang pengabdian dan melejitkan potensinya di ruang tersebut. Pada akhirnya disitu jugalah ia akan diperhitungkan penduduk bumi dan disebut-sebut penduduk langit, hingga setiap jejak langkahnya merupakan catatan sejarah yang bakal dipedomani generasi berikutnya, dan akan ia bangga-banggakan di hadapan Tuhan nantinya.

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai
Memiliki imunitasi diri. Acap kali kita dengar bahwa para dai bukanlah komunitas malaikat yang selalu benar, dan sebaliknya juga bukan komunitas setan yang senantiasa salah. Ini adalah jamaah manusia yang dalam upaya kontinuitas pada kebenaran, terkadang kita salah. Walau pun begitu kita tidak disarankan mengasingkan diri, dengan harapan tidak banyak interaksi dengan manusia, dan dengan harapan juga sedikit kiranya dosa yang tercipta.
Lihatlah misalnya teguran Allah pada nabi Yunus as, ketika ia pergi meninggalkan umatnya dalam kesesatan. Maka, para dai bukanlah si-sufi yang melarikan diri ke hutan-hutan, ke gunung-gunung, seraya menasbihkan dirinya. Tetapi para dai (kader dakwah) yang kita rindukan adalah mereka yang berbaur namun tidak bercampur, berinteraksi tetapi tidak terkontaminasi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar